sastra

Minggu, 25 Maret 2012

Batu Senja

Masih duduk termenung dalam kesendirian tanpa teman, kecuali sang senja yang selalu menyapa dengan kehangatan aura keindahan.jendela tua tak bersayap peneman hari dengan menahan tetesan di balik bola mata indah Lia.
Sore itu bagaikan senja terakhir dalam hidup Lia, pikirnya. Seorang yang begitu ia cintai, telah pergi untuk selamanya semakin menggugah ketika senja mereka bercanda ria mengungkapkan kata indah dari bibir sang pujangga, Abi.
Kala itu Lia yang sedang duduk menikmati lantunan ombak di bibir pantai bersama Tia, Uli dan Ika, sahabatnya. Lia adalah sosok gadis santun, baik, jujur dan parasnya yang cantik sehingga semua orang senang berteman dengannya. Di sekolah ia kerap mengikuti berbagai organisasi dan olimpiade yang diadakan.
Mereka masih bermain dengan buih-buih ombak dan pasir laut bermain kejar-kejaran, tanpa sengaja Lia menendang batu hingga terjatuh tepat disampingnya itu Abi sedang bermain bola bersama teman-temannya. Tia, Uli dan Ika sontak berteriak terkejut melihat darah di kaki Lia, Abi melihat itu pergi membatu mereka membawa Lia ke atas batu.
Abi mengobati kaki Lia yang berdarah, awal perkenalan di atas batu senja. “kaki mu tak apa-apa lagi, darahnya sudah berhenti, sekarang kerumah sakit ya?, oya, maaf saya tidak sopan, kenalkan saya Abi.” Seraya menjabat tangan tanda perkenalan. “terimakasih kak, saya lia dan ini sahabat saya!,”
Sahabat Lia, Abi pergi ke rumah sakit untuk mengobati kaki lia, malam menyapa dan akan semakin larut apabila mereka tak segera pulang. “ ini obatnya, jangan lupa di minum 3X1 sehari” ucap sang dokter. Setelah selesai di periksa oleh dokter Abi membawa pulang mereka ke rumah. “ terimakasih kak, maaf sudah merepotkan” tak apa, hanya ini yang bisa saya bantu, jangan lupa makan dan obatnya di minum secara teratur” jawab Abi pada Lia yang turun dari mobil Abi.
****
Pagi itu, seperti biasa para siswa sedang asik berkumpul di taman, ada yang di teras dan sebagian besar lagi melihat info-info terbaru di mading sekolah. “eh! Ada apa itu rame-rame di mading lihat yuk?.” Ajakan Ika sambil berlari ke arah mading. “wah, keren ni ada olimpiade Biologi di SMU 5, gimana kalau Lia ikut?” “ikut aja Lia kamu kan pandai Biologi selalu dapat nilai tertinggi.” Sahabat Lia merayu agar ia mau ikut lomba tersebut.
Formulir pendaftaran sudah siap dan semuanya sudah lengkap, hari perlombaan pun tiba. Lia yang sedang duduk sendiri di sudut ruangan menunggu Ika, Tia dan Uli sambil bermain HP. Ia sudah terlalu bosan menunggu sahabatnya datang Lia pun keluar sebentar menuju kantin SMU tersebut.  Tanpa sengaja ada seorang yang sedang asik bercanda sambil berjalan menabrak lia “maaf! Saya tidak sengaja.” Pinta maaf siswa itu. “ iya, tidak apa-apa, kakak yang tempo lalu di laut kan?, kalau tidak salah nama kakak Abi ya?” “ iya, kamu Lia kan, sudah sembuh luka di kaki kamu?, kawan-kawan kalian pergi duluan saja, nanti saya menyusul dibelakang ini teman saya Lia”. Ucap Abi yang ingin berbincang-bincang dengan Lia.
Perlombaan baru akan dimulai pukul 12.00 Lia yang terlalu cepat datang jam 9.00 lupa karena terlalu bersemangat mengikuti lomba. Tanpa terasa waktu berlalu, sahabat Lia tiba. “ Lia, nanti kita  jumpa lagi di taman depan ya?” ajak Abi. Ternyata Abi adalah panitia olimpiade tersebut Abi mulai tertarik kepada Lia, ia terus memandang Lia tanpa sepengatahuannya. Namun, ia belum berani bicara panjang lebar pada Lia waktu itu.
Abi sosok remaja yang baik, selalu ikut di segala kegiatan sekolah. Bahkan, Abi pernah menjadi ketua OSIS. Selalu terlihat tenang dalam berbagai keadaan, banyak yang menyukai sifatnya, tapi sayang penyakit yang di derita Abi terlalu parah, namun tak pernah patah semangat untuk memberi sejuta senyuman.
Pertemuan mereka di taman membuat keduanya menaruh hati. Seminggu setelah pertemuan itu Abi mengajak jalan-jalan Lia, di pantai dimana pertama kali mereka bertemu, Abi yang sudah yakin menyatakan cinta pada Lia.
“ jam 5 di atas batu senja kita berjumpa” pesan masuk di HP Lia. Pertemuan untuk menyatakan cinta di atas batu senja pun dilaksanakan. Mereka jadian dan pacaran. Hampir tiap petang mereka duduk di atas batu itu, memandang keindahan alam panorama hangatnya mentari sore.
Lima bulan mereka sudah berpacaran, namun Abi belum mengatakan kepada Lia, bahwa dirinya menderita penyakit kanker. Suatu malam Abi cek up di rumah sakit tempat ia biasa berobat. Alhasil dari pemeriksaan itu Abi harus melakukan operasi di kepalanya karena kanker tersebut sudah mulai mejalar.
“Lia, maafkan aku, karena aku baru berani mengatakannya padamu bahwa aku sebenarnya menderita penyakit kanker di kepala dan mulai menjalar. Minggu depan aku harus melakukan operasi pengangkatan penyakit ku, bila operasi ini gagal dan aku telah tiada, tolong jangan pernah kau tangisi aku dengan rasa kecewa mu kepada ku, aku mencintai mu hari ini dan selamanya.” Abi menjelaskan pada Lia, tanpa sadar Lia tak dapat menahan tetesan dimatanya itu, kecewa pasti dirasakan, namun, Lia sudah begitu mencintai Abi.
Mungkin hari itu adalah terakhir perjumpaan Abi dan Lia, hari yang ditentukan dokter untuk operasi Abi pun tiba, Abi pernah mengatakan pada Lia, kalau dia akan di operasi hari rabu tapi Abi tidak mengizinkan Lia untuk menjenguknya, disuruhnya hanya menunggu dirumah. Abi sudah berjanji akan memberi kabar baik pada Lia.
Hari-hari yang dilalui Lia seakan begitu berat baginya, harap cemas selalu menghantui, hari-hari berlalu begitu saja tanpa kabar. Dua  minggu setelah operasi, Lia mendapat kabar bahwa Abi telah meninggal dunia. Operasi pengangkatan kanker gagal dilakukan, Lia yang mendapatkan kabar dari sahabat Abi menangis, hatinya hancur bagai kaca yang pecah berkeping yang menyayat dan memberi luka bersimbah darah.
Setelah kepergian Abi, Lia hanya termenung Ika, Tia dan Uli bahkan tidak mampu mengembalikan senyum sahabat tercintanya itu. Tiap minggu petang Lia kerap duduk di atas batu senja di bibir pantai, mengenangi masa-masa indah saat bersama Abi. Sore itu rasa kerinduannya kepada Abi tak bisa di tahan, ia menangisi sosok Abi yang selalu hadir dalam bayangnya. Seraya menikmati senja yang dipenuhi derita batin Lia menuliskan sebuah puisi :
Sajak Kasih
Melihat kau telah pergi
Membunuh rasa cinta dalam jiwa
Air yang tak bisa lagi aku bendung di balik mata
Tertetes begitu saja

Kau pergi tanpa pamit
Meninggalkan sejuta kenangan yang tak bisa aku lupakan
Kini aku hanya bisa meluapkan tetesan air mata
Sayang, kau terlalu jauh atas semua itu
Kau tahu aku merindukan mu
Aku menangisi mu sekarang

Memang lama sudah kita berpisah
Namun, wajah mu selalu tampak di balik mata ku ini
Kau tersenyum begitu saja
Tanpa menggapai tanganku
Kau cuma melihat dan pergi

Ku pernah berharap kau kembali
Ku ingin kau hadir lagi dihadapanku
Namun,itu tak mungkin lagi terjadi
Karena kau kini hanya mimpi dalam tidurku
Mimpi yang selalu indah bila dikau hadir

Sayang, selamat tinggal
Kita ‘kan berjumpa disana..

Bersama sajak itu tetesan demi tetesan jatuh dari bola mata indah dan pipi halus Lia, ia sadar bahwa Abi kini telah tiada dan tak perlu baginya terus menangisi kepergian Abi. setelah petang itu, Lia bertekad untuk mengembalikan senyum manisnya, ia akan kembali menjadi Lia yang dulu bersama kenangan manis bersama Abi.  Sampai kapan pun Lia akan mengenang abi dalam hatinya. Abi sang kenangan batu senja.


                                                            23 Maret 2012


karya : Rahmatsyah.

Kamis, 08 Maret 2012

Bias rindu


Rebah bulan redup ia bersinar
Tatkala melayang menulusiri sang malam
Dalam sajak dan sajak pena ini terus bergoyang
Menuliskan sejuta kata cinta yang tidak bisa ku pendam
Dan aku Tanya lagi pada sang rembulan
“Apakah kau mau bersinar lagi seperti cinta ku yang terang ini?”

                                                            Rahmatsyah (abu)                  
                                                            Tungkop, 9 maret 2012

Senin, 05 Maret 2012

Sketsa Jiwa


Sinar yang terbakar dalam relung jiwa
Membara bak mentari diatas bumi
Panas dan semakin panas

Menyaksikan senja yang tak lagi indah
Merasakan malam yang tak mampu memberi keindahannya
Dan rembulan marah karena bintang telah menjadi penghiat dalam buaian malam

Retak bintang pecah berkeping
Menangislah ia sempurna tak kembali
Berharap sempurna
Namun, sesal terlalu cepat menghampiri

Ah, aku pun ikut terhayut
Terikat dengan amarah batin
Membakar jiwa yang tak menentu

Sudahlah, aku tak peduli
Inilah aku dan sajakku
Mencari satu bahagia dalam jiwa
Walau, amarah …

                                                                        Rahmatsyah,05032012

Kamis, 02 Februari 2012

semua akan jadi seperti asal kejadian…


Ketika janji tak mampu lagi dipenuhi
Ketika kalam tak sanggup bersua
Ketika diam menjadi penguasa
Dalam sepi
Dalam kegalauan
Dan semua rasa duka
Di alam gelap tanpa cahaya
Sempit penuh dinding
Sendiri tanpa teman
Ingin masa berlalu
Namun, akan sangat lama berlalu “Pemurka!”
Ingin selamanya disana dan akan ada hari selanjutnya “pemuja”
Salam.. dan sucilah bagi yang disucikan
Dan semua akan jadi seperti asal kejadian…

Banda Aceh, 2 februari 2012
Rahmatsyah 

Kamis, 19 Januari 2012

Seandainya Sajak Ini


Ketika akan ku tuliskan beribu sajak
Tentang kejadian
Tentang yang terlihat
Tentang semua itu
Dan seandainya mereka melihat sajak ku

Aku tahu,
Sajak hina ku
Tak selayak mereka
Namun, itulah kumpulan semua kisah

Betapa aku tak bisa menahan rasa
Ingin ku katakan
Tapi, kalam begitu kelu
Tubuh terbujur
Dan aku takut dalam kekuatan ku

Inilah sajakku yang menjadi
Perjalanan dalam ruang waktu ku

Seandainya mereka mau melihat sajak ku

Aku tak mau selalu berandai dalam sajak

Rahmatsyah, Unsyiah, 30 desember 2011

Untuk apa Kasih Sayang


Aku yang sedang tertawa
Bahagia melayani masa bersama waktu
Bersama kasih

Lalu kau tiupkan hawa panas itu
Hingga senyum ku hilang
Aku tahu
Kau dan dia adalah kasih ku
Namun, kau dan dia terlalu kejam

Untuk apa kasih itu sebenarnya
Bila aku tak pernah merasa nyaman dalam pangkuan itu
Apakah ini kasih sayang

Aku tak ingin lagi menangis
Aku telah dewasa
Aku tahu apa yang ku rasa

Aku hanya ingin hati ku bebas
Tolong jaga itu
Atau aku akan pergi untuk selamanya..

                                                                                    Rahmatsyah, 11 Januari 2012
                                                                                    Mahasiswa Gemasastrin 2010

Tertulis Dalam Mimpi


Ketika waktu tak lagi bersua
Ketika saat telah berganti
Ketika semua pergi
Itu tertulis dalam mimpi
Tentang cinta dan rasa
Bagai berjalan diatas bayang
Tak sampai teraba
Walau, terlihat jelas
Hitam itu
Bila mampu kala itu terulang
Tak aka nada mimpi itu
Tak mungkin kisah ini tertulis dalam mimpi
Begitu sakit
Begitu perih
Dan tak mau semua terulang lagi
Tak ingin kisah mimpi
Karena ini telah nyata
Sayang, waktu telah terhenti
Mata terbuka atau terpejam
Semua tak akan nyata lagi
Karena telah tertulis dalam mimpi

(Abu) Rahmatsyah. Banda Aceh
4 Januari 2012