sastra

Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

For You


1.      Awalnya hanya saling pandang
2.      Mulai saling tersenyum
3.      Duduk berhadapan dan memandang
4.      Betapa indahnya dirimu
5.      Semoga ini sebuah anugerah
6.      Aku mencintaimu sejak saat itu
7.      Jantungku berdetak kencang ketika kau disisiku
8.      Kini, aku sedang mencintai
9.      Menjadi kekasih halalku
***
Ketika itu tak sengaja aku melihatmu tersenyum, betapa manisnya senyuman yang kau tebarkan hingga aku menikmati indahnya wajahmu tanpa kau sadari, kala itu. Ingin aku berkenalan denganmu waktu itu, namun aku tak berani, aku pun tak tahu apa yang ku rasa saat itu padamu, bahagia hati ini mengingatmu. Harapku dalam hati kau melihatku sejenk saja, berharap membalas tatapanku.
Ruang yang sudah dipenuhi orang tak mengahalangiku untuk melihatmu, meskipun aku belum mengenalimu, begitu juga sebaliknya. Sejam berlalu, aku masih memandangmu dan di saat waktu berakhirnya rapat kau baru membalas tatapaku. Waktu berlalu begitu saja, kau pun pergi, kita belum sempat berkenalan karena aku takut untuk mendekatimu. Doa dalam batinku masih mengiringi untuk dapat tetap sekedar mengenalimu atau bahkan lebih dari itu.
Hari demi hari berlalu, aku berharap kembali berjumpa denganmu. Namun, nihil untu semua itu karena jarak kita berbeda. Hanya di saat ada perkumpulan atau rapat kita bisa berjumpa dan itu pun sangat jarang terjadi.

Tak ku sangka sebuah pesan masuk, memberitahukan bahwa esok akan ada rapat, senyum tipis dan hasrat ingin berjumpa denganmu kembali muncul. Waktu yang ditentukan telah tiba, namun kau belum juga muncul. Setengah waktu berlalu, kau hadir dalam ruangan rapat. Oh, cantiknya. Pandanganmu tertuju padaku dan aku pun tak membuang waktu untuk membalasnya. Awalnya hanya saling pandang antara kau dan aku, sungguh hari ini adalah hari yang begitu indah bagiku.
Keesokan harinya tanpa ku duga kau datang ke kampus, aku tak tahu apa tujuanmu hari itu, yang penting bagiku aku dapat melihatmu. Perjumpaan kita hari ini berbeda dengan sebelumnya, ku rasa kau telah mengenaliku. Mulai saling tersenyum, kau berjalan menuju tujuanmu, masih saja aku tak berani untuk memanggilmu sejenak berbincang denganku. “tak apalah, masih terlalu awal berrcerita dan bercanda denganmu” bisik batinku.
Setelah beberapa kali kita berjumpa, kau seakan memberikan suatu pandangan lain padaku, seperti mengerti apa makna yang ada dalam hatiku selama ini. Di kantin itu saat pertama sekali aku mengajakmu makan bersama terasa sangat lain kita duduk berhadapan dan saling memandang, tak dapat ku pungkiri sangat bahagia batin ini dapat bersamamu kupandang betapa indahnya dirimu. Tidak ingin satu detik pun terlewatkan tanpa melihat asri wajah cantik yang selalu terbayang-bayang dalam pikiran ini. Kini, banyak yang mengatakan, bahwa mengungkapan perasaan dengan kata adalah lebay, biarlah orang berkata sesukanya. Namun, kau itu bagaikan rembulan diantara seribu bintang, dari sekian banyak yang indah hanya kau yang terindah bagiku.
Masih saja terukir sejuta kata dalam hatiku seraya doa yang mengiringi semoga ini sebuah anugerah hanya kalimat itu yang terus teruntai dalam batinku. Aku mencintaimu sejak saat itu, dan aku belum berani mengatakannya padamu kekuatanku seakan hilang seketika saat bersamamu jantungku berdetak kencang ketika kau disisiku. Aku lebih takut hanya sekedar menghadapimu daripada berhadapan dengan singa buas dalam rimba, kau mampu melemahkanku dalam sekejab, membuka hatiku untuk kembali tahu tentang cinta setelah sekian lama aku menutup diri dan tak ingin mengenal cinta, kini kau memberi arti pada semua itu.
Kini, aku sedang mencintai, yaitu mencintaimu, bukan orang lain. Mungkin tanpa kau sadari atau bahkan saat kau sadar aku sempat mengutarakan perasaanku, saat itu sangat ingin ku dengar kau mengatakan “ya”  atas apa yang telah ku katakan, nihil rupanya yang terjadi, kau malah menjawab “tidak mungkin”. Tetap ku maklumi karena mungkin kau belum tahu bahwa aku telah jatuh hati kepadamu sejak awal aku melihatmu.
Walaupun, kini kau belum dapat atau malah meragukan hati ini. Namun, aku akan terus berdoa dan berharap agar kau kelak menjadi kekasih halalku sampai waktu hanya dapat berdiam dan dunia ini fana. Aku tak ingin banyak cinta, bila cinta itu hanya untuk permainan, tapi aku hanya butuh satu cinta, yaitu seperti kata petuah “aku mencintaimu karena agama yang ada padamu”. Bukan cinta untuk nafsu belaka. Inilah sketsa cinta yang terpendam, yang tak belum berani ku katakan padamu, tapi hanya sanggup kurangkai melalui tulisan ini. Andai kau tahu isi hati ini, aku ingin memeluk hatimu dengan batinku.


Rahmatsyah (abu)
Banda Aceh, 20 Juli 2012

Jumat, 29 Juni 2012

Catatan Cinta


1.      Awal dari cinta adalah pertemuan
2.      Cinta tumbuh dengan berjalannya waktu
3.       kesedihan itu pun menghampiri
4.      Tiada kebahagian tanpa ada kesedihan
5.      Sampai kapanpun cinta ini takkan pernah hilang
6.      Mungkin bahagia itu ada setelah kepergian seseorang yang sangat berarti
7.      Memilih cinta sejati dengan kepedihan atau mendapat cinta sesaat dengan kesenangan
8.      Perpisahan ini adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku
9.      Air mata dan cinta adalah satu
**********
(INILAH CATATAN CINTAKU DENGAN SANG MANTAN)
Sesunggunya kesendirian yang ku jalani selama ini sangat menyiksa batin, hidup dalam kesendirian tanpa ada peneman. Hari ini adalah hari yang berbeda dari sebelumnya ketika perjumpaan pertama dengannya hati ini langsung merasakan hal yang beda, seperti kata orang-orang Awal dari cinta adalah pertemuan. Perkenalan yang singkat dan hari-hari pun mulai menyenangkan aku merasakan hal yang berbeda.
Pertemuanku dengannya sungguh indah, Cinta tumbuh dengan berjalannya waktu aku tak lagi merasakan kesendirian setiap waktu ku jalani bersamanya dalam susah, sedih, senang bahkan saat aku terjatuh. Tiada hal yang paling indah selain cinta karena cinta itu anugerah yang tak ternilai harganya. Cinta itu dapat membuat api membara sampai bumi ini hangus, cinta juga dapat menyejukkan dan lebih sejuk daripada angin di bibir pantai, cinta itu lebih indah daripada senja yang menampakkan kecerahan dan panoramanya, tiada yang dapat mengartikan cinta sesungguhnya.
Cinta juga dapat merubah segalanya, bahkan hal terindah bisa berubah menjadi kenangan pahit, kebahagian dan kesedihan itu sangat dekat, di mana ada kebahagiaan di sana ada kesedihan ibarat menyimpan emas dalam tumpukan kotoran. Inilah yang terjadi dalam perjalan cintaku ketika kebahagian baru saja aku rasakan kesedihan itu pun menghampiri. Tiada kebahagian tanpa ada kesedihan kalimat yang terus membayangi dalam benakku. Tak dapat ku pungkiri kabahagian yang ku alami sangat indah, tapi mengapa begitu singkat? Mengapa perpisahan itu ada.  Padahal tiada seorang pun yang menginginkan perpisahan, karena perpisahan itu hanya akan menyebabkan air mata, kenangan dan kesedihan. Walau air mata tak semalanya mengalir di atas pipi, namun hati akan terus tersayat olehnya.
Jika kebahagiaan pada awal cerita, mengapa kesedihan itu ada pada akhir kisah?. Walau begitu Sampai kapan pun cinta ini takkan pernah hilang. Cinta yang tumbuh dalam hati ini tak bisa dengan cepat hilang, waktulah yang menentukan semuanya, sebelum atau setelah aku meninggalkan dunia fana ini. Kepergiannya bukan karena kesengajaan, dan juga bukan skenario yang diciptakan oleh tangan-tangan manusia.  Aku tidak tahu apakah aku akan kembali mendapatkan cinta seperti ku dapat cintanya, apakah ia akan sama seperti cinta yang dahulu, apakah aku akan ikhlas dengan cintaku selanjutnya?. Atau Mungkin bahagia itu ada setelah kepergian seseorang yang sangat berarti. Sampai mendapatkan cinta selanjutnya tak bisa lagi berdusta hati ini masih saja kadang kala merindukan sosok gadis mungil yang dulunya sangat suka merebahkan wajah manisnya di bahuku. Wajah yang kini hanya dapat ku lihat dalam bingkai itu dan tak bisa lagi ku sentuh dengan tangan ini melainkan tetesan-tetesan mata yang membasahi wajahnya dalam bingkai.
Masih teringat kata terakhirnya padaku “Memilih cinta sejati dengan kepedihan atau mendapat cinta sesaat dengan kesenangan” setelah aku dengannya tak pernah lagi terbesit untuk mencari cinta lagi karena aku yakin cinta akan tumbuh setelah kepergiannya walau cinta ini tak sebesar cintaku padanya dulu. Mereka berkata “tak ada gunanya lagi mengenang seseorang yang telah tiada”, bagiku itu tak mungkin karena kenangan paling indah memang saat bersamanya.
Perpisahan ini adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Perpisahan dua hati yang tak pernah bisa lagi dikisahkan oleh orang lain, hanya mereka dapat menulis kembali kisah sederhana ini, seperti kisah Taj Mahal atau romeo dan juliet cinta abadi sampai kini masih dikenang. Air mata dan cinta adalah satu bahagia meneteskan air mata, sedih juga dapat meneteskan air mata. Inilah air mata untuk cinta yang pertama dan bukan terkhir.



Rahmatsyah, 13 juni 2012