sastra

Tampilkan postingan dengan label bahan kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahan kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juni 2013

Kurikulum



Bentuk Kurikulum
Secara umum pengertian kurikulum adalah alat yang yang berisikan tujuan, isi, proses dan hasil, yang dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu. Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan jika bagimanapun bentuk kurikulumnya haruslah sesuai dengan tujuan awal pendidikannya. Namun bagaimanapun juga bentuk kurikulumnya maka tidak akan banyak berguna jika digunakan pada zaman yang salah.
Mengapa diakatakan zaman yang salah, hal ini berkaitan dengan kehidupan manusia yang kian lama kian maju dan semakin canggih. Oleh karenanya akan tidak relevan menggunakan kurikulum tradisional ditengah zaman modern seperti sekarang ini. Tak berarti juga kurikulum harus berpatok pada tekhnologi mengingat masih banyak daerah-daerah yang perkembangan tekhnologinya masih tertinggal. Dengan kata lain penggunaannya masih harus disesuaikan dengan lingkungan sekitar peserta didik dan tempat pelaksanaan proses belajar mengajar. Namun harus tetap mampu menyiapkan peserta didik yang berguna dimasa yang akan datang.
Model konsep kurikulum yang sangat erat dengan aliran pendidikan ini telah banyak dikembangkan oleh para ahli. Diantaranya ada 4 model konsep kurikulum yang sering dipelajari dan sering digunakan. Empat model konsep kurikulum itu adalah kurikulum subjek akademis, kurikulum humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial, dan kurikulum teknologis.
Berikut sedikit penjelasan singkat tentang 4 model konsep kurikulum di atas:
Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum subjek akademis ini merupakan kurikulum yang mengutamakan isi (subject matter). Kurikulum ini berisikan kumpulan bahan ajar dan rencana pembelajaran. Target utama dari kurikulum ini adalah penguasaan materi yang sebanyak-banyaknya.
lihat penjelasan lebih lanjut tentang kurikulum ini di =>> Kurikulum subjek akademis (cooming soon)
Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik merupakan kurikulum yang mengutamakan proses belajar mengajar. Kurikulum dikembangkan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Peran guru sangat besar dalam memberikan suasana belajar yang nyaman kepada peserta didiknya. Target utama dari kurikulum ini adalah mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri.
lihat penjelasan lebih lanjut tentang kurikulum ini di =>> Kurikulum Humanistik (cooming soon)
Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial merupakan kurikulum yang bertujuan mempersiapkan peserta didik agar dapat menghadapi tantangan dalam dunia kerja. Kurikulum ini menuntut sekolah untuk dapat mengembangkan kehidupan sosial siswa dan bagaimana siswa dapat bergabung atau berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
lihat penjelasan lebih lanjut tentang kurikulum ini di =>> Kurikulum rekonstruksi sosial (cooming soon)
Kurikulum Tekhnologis
Kurikulum tekhnologis ini merupakan kurikulum yang menggabungkan antara ilmu pengetahuan dengan tekhnologi (dalam artian positif). Dengan maksud agar proses pembelajaran disekolah dapat lebih efektif dan efisien dengan dukungan tekhnologi.
lihat penjelasan lebih lanjut tentang kurikulum ini di =>> Kurikulum Tekhnologis (cooming soon).

Bentuk-Bentuk Kurikulum
1.      Subject Matter/Subject Centered Curriculum
      Yaitu kurikulum yang terdiri atas mata pelajaran yang terpisah-pisah. Materi yang di pelajari oleh siswa telah disusun secara logis oleh para ahli bidang studi.
Keuntungan:
1). Mata pelajaran terdiri atas pengetahuan yang telah disusun secara logis dan sitematis.
2). Mata pelajaran dianggap sebagai alat yang sesuai untuk mengembangkan intelektual seseorang.
3). Sejalan dengan konsep-konsep yang telah ditata sesuai dengan proses pendidikan
4). Sebagai pewarisan pengetahuan yang telah berabad-abad dikembangkan sehingga kita menghargai pendahulu kita.
5). Penyusunannya mudah dilakukan
Kelemahan:
1). Belum tentu sesuai dengan latar belakang anak, sehingga anak-anak sering menghafal tanpa pengertian.
2). Terlalu mementingkan perkembangan intelektual, mengabaikan perkembangan sosial, emosional dan pendidikan watak.
3). Karena mata pelajaran terpisah-pisah, kurang memberikan bekal pemecahan masalah kehidupan secara integratif.
4). Kurang memperhatikan fungsionalnya dalam kehidupan, sehingga anak-anak kurang terlatih untuk menghadapi masalah kehidupan yang sebenarnya.

1.      Broad Field/Fused/Correlated Curriculum
Yaitu kurikulum yang disusun dengan mengkorelasiakn atau menggabungkan sejumlah mata pelajaran sejenis. Contohnya: IPS, IPA, Matematika, bahasa Indonesia, dan Kesenian.
Keuntungan:
1). Dimungkinkan adanya pemberian pengertian yang lebih kaya dengan adanya kaitan antar matapelajaran.
2). Lebih menarik bagi anak.
3). Anak mulai dapat memanfaatkan kesatuan matapelajaran untuk meninjau berbagai persoalan hidup.
Kelemahan:
1). Kurang memberikan disiplin tinjauan spesialisasi matapelajaran.
2). Kurang memberikan pengetahuan mendalam pada masing-masing matapelajaran.
3). Sering terlampau abstrak, karena hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan tema-tema tertentu.

1.      Integrated Curriculum
Yaitu kurikulum yang diorganisasikan dalam bentuk unit-unit tanpa harus ada matapelajaranatau bidang studi. Pembelajaran dilaksanakan dengan “unit teaching” dan materinya menggunakan “unit lesson”. Pelajaran disusun guru dan murid, mengnadung suatu masalah yang luas, menggunakan metode “problem solving”, sesuai dengan minat dan perkembangan anak.
Keuntungan:
1). Didasarkan atas pengalaman dan minat anak.
2). Menggunakan beragam kegiatan untuk memecahkan masalah
3). Guru dan murid bersama-sama merencanakan.
4). Integrasi semua matapelajaran
5). Memberikan pengalaman langsung kepada anak.
6). Pelajaran sesuai dengan kehidupan anak
7). Memperhatikan perbedaan individual anak
8). Mengembangkan ketrampilan-ketraampilan fungsional
9). Menggunakan lingkungan sebagai sumber pelajaran
10). Banyak memberikan ketrampilan sosial
11). Menggunakan psikologi Gestalt dalam pembelajaran.
Kelemahan:
1). Kurang mempersiapkan anak mengikuti ujian tradisional selama ini
2). Memerlukan fasilitas pembelajaran yang belum dimiliki oleh sekolah
3). Tidak memberikan pengetahuan yang logis dan sistematis
4). Memberatkan tugas guru
5). Lebih mengutamakan proses daripada materi
6). Manajemen pembelajarannya sangat sulit.

d. Core Curriculum
Yang kurikulum inti ysng diberikan kepada semua murid untuk mencapai keseluruhan program kurikulum secara utuh. Contoh di Indonesioa adalah: Agama dan PPKN.

A.    Kurikulum Inti
kurikulum merupakan pedoman mendasar dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan.dan juga sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan Berhasil tidaknya suatu pendidikan, tentu akan sangat tergantung pada kurikulum. Di Indonesia tujuan kurikulum tertera pada undang-undang sIstem pendidikan nasional tahun 1989 bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar .
Adapun kurikulum terdiri atas berbagai komponen yang satu dengan yang lain saling terkait adalah merupakan satu sistem, ini berarti bahwa setiap komponen yang saling terkait tersebut hanya mempunyai satu tujuan yaitu tujuan pendidikan yang juga tujuan kurikulum. Kurikulum yang disusun dipusat terdiri dari beberapa mata pelajaran pokok dengan harapan agar peserta didik diseluruh Indonesia mempunyai standar kecakapan yang sama. Kurikulum tersebut dinamai kurikulum nasional atau kurikulum inti. Dan kurikulum yang lain yang disusun di daerah – daerah disebut kurikulum muatan local, Untuk itu, pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba membahas salah satu dari kedua kurikulum tersebut yaitu kurikulum inti (core curriculum).yang mana dilihat dari aspek pengertian, dasar pelaksanaan kurikulum inti, komponen-komponen dalam kurikulum inti, dan asas-asas dalam penyusunan kurikulum intiA.Pengertian Kurikulum Inti (core curriculum)
Menurut Caswell, seperti dikutip dalam Nasution (1993: 115), define kurikulum inti adalah sebagai berikut : "A continous, careful planned series of experience which are based on significant personal and social problems and which involve learning of common concern to all youth"
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa cirri-ciri kurikulum inti adalah :
a. Kurikulum inti merupakan rangkaian pengalaman yang saling berkaitan;
b. Direncanakan secara terus menerus sebelum dan selama dijalankan;
c. Berdasarkan pada masalah-masalah yang dihadapi;
d. Berdasarkan pribadi dan social;
e. Diperuntukan bagi semua siswa, karenanya termasuk pendidikan umum.
Kurikulum inti disebut juga sebagai kurikulum nasional, karena kurikulum inti disusun dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan para lulusan menjadi manusia Indonesia seutuhnya (UUSPN No. 2 Tahun 1989, pasal 4) yang tentunya selalu memperhatikan pada kebutuhan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh.

B.     Dasar Pelaksanaan Kurikulum Inti/Nasional
Didalam pelaksanaan kurikulum terdapat banyak factor yang harus dipertimbangkan untuk mencapai tujuan dari kurikulum tersebut adapun didalam penyusunanya kurikulum mempunyai landasan yang terdiri dari Landasan Ideal , Landasan Hukum, Landasan Teori .
a. Landasan Ideal berupa UUD 1945, pancasila dan Tap MPR tentang GBHN dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan nasional dan tujuan pendidikan nasional.
b. Ladasan Hukum berupa peraturan pemerintah republik Indonesia nomer 29 tahun 1990, tentang pendidikan menengah, keputusan mendikbud nomor 060/U/1993 tentang kurikulum sebagaimana tercantum dalam landasan, program pengembangan kurikulum.
c. Landasan Teori berupa buku landasan program dan pengembangan kurikulum yang memuat tentang pedoman dalam pengembangan kurikulum dan buku pelaksanaan kurikulum terdiri atas pedoman kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran.

C.    Komponen -Komponen Dalam Kurikulum Inti
Kurikulum inti atau nasional didalam penyusunannya juga harus sesuai dengan tingkatan pendidikan masing – masing. Seperti kurikulum nasional pada pendidikan dasar terdiri dari
a.Pendidikan pancasila
b.Pendidikan agama
c.Pendidikan kewarganegaraan
d.Bahasa Indonesia
e.Membaca dan menulis
f.Matematika
g.Kerajinan tangan dan kesenian
h.Menggambar
i.Pendidikan jasmani

Komponen – komponen sebagai dasar dalam penyusunan kurikulum inti terdiri dari tujuan, isi, metode (tehnik menyampaikan dalam proses belajar mengajar), evaluasi program.
Menurut Tyler, kurikulum menyangkut hal-hal berikut
a.Tujuan yang akan dicapai
b.Isi materi pa yang harus diprogramkan untuk mencapai tujuan tersebut
c.Bagaimana isi kurikulum itu diorganisasikan
d.Bagaimana mengetahui bahwa tujuan yang akan dicapai dimiliki peserta didik

D. Asas-Asas Penyusunan Kurikulum Inti
Kurikulum juga memilki asas-asas yang terdiri dari asas filosofis, asas psikologis, asas sosiologi, asas organisatoris,
a.       Asas filosofis
Tujuan pendidikan tidak terlepas dengan unsur filosofis seperti mendidik anak untuk menjadi manusia yang baik didalam masyarakat. Kata baik ini pada hakikatnya ditentukan oleh nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut guru, orang tua ,masyarakat, Negara dan dunia maka filsafat menentukan tujuan yang dicapai dengan alat yang disebut kurikulum.
b.      Asas psikologi
Asas ini terdiri dari dua:
a)      Psikologi Belajar
Bahwa setiap anak dapat didik untuk menguasai pelajaran, ,menerima norma-norma dan dapat mempelajari bermacam keterampilan
b)      Psikologi Anak
Memberikan kesempatan belajar kepada anak, agar dapat mengembangkan bakatnya. Karena sudah sewajarnya jika anak sendiri yang menjadi factor dalam pembinaan kurikulum yang tak dapat diabaikan.
c.       Asas sosiologi ( masyarakat)
Anak itu tidak hidup seorang diri, namun senantiasa hidup didalam suatu masyarakat. Disitu ia harus memenuhi tugas sebagai anak maupun sebagai orang dewasa dengan penuh tanggung jawab. Ia anak menerima jasa dari masyarakat, dan dan ia juga harus menyumbang baktinya kepada masyarakat. Karena naka harushidup dalam masyarakat, masyarakat pun harus dijadikan sebagai factor yang harus dipertimbangkan dalam pembinaan kurikulum.
d.      Asas organisatoris
Asas ini membahas tentang bentuk penyajian bahan pelajaran, seperti tidak mengadakan batas-batas diantara berbagai mata pelajaran. Sesuai dengan keberadaannya, kurikulum inti / nasional ini diaplikasikan pada semua jenis menurut jenjangnya, misalnya di SD, MI, SMP, SMA/MA(SMU), STM, SMEA, dan lain-lain sejak dari sabang sampai marauke sekolah dikota maupun didesa itu sama bentuknya yang bertujuan untun mencapai tujuan pendidika nasional Indonesia.

Kesimpulan
Bahwa kurikulum inti bukanlah kurikulum satu-satunya yang ada disekolah masih banyak kurikulum yang lain, akan tetapi kurikulun inti/nasioanal merupakan alat untuk mancapai tujuan yang ingin dicapai didalam pendidikan nasional dan kurikulum inti memiliki landasan berupa Landasan Ideal, Landasan Hukum, dan Landasan Teori. komponen – komponen dalam kurikulum inti juga terdiri dari Tujuan, Isi, Metode, dan Evaluasi Program. begitu juga Asas-Asas yang digunakan untuk melaksanakan kurikulum tersebut terdiri dari Asas Filosofis, Asas Psikiologis, Asas Sosiologis dan Asas Organisatoris.
B. Kurikulum Terpisah
kurikulum yg menitikberatkan kepada sejumlah mata pelajaran yg terpisah-pisah.


 



Kurkulum Terpisah
o   kurikulum yg menitikberatkan kepada sejumlah mata pelajaran yg terpisah-pisah.

Sumber:

http://deskripsi.com/k/kurikulum-terpisah

Drama dan Teater



I. PENGETAHUAN DASAR DRAMA dan TEATER
1.1 Konsep Drama
Istilah "drama" berasal dari bahasa Yunani "draomai" yang berarti “menirukan”, selanjutnya dalam pengertian umum diartikan “berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi”. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action. Dalam kehidupan sekarang, drama mengandung arti yang lebih luas ditinjau apakah drama sebagai salah satu genre sastra, ataukah drama itu sebagai cabang kesenian yang mandiri. Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Drama pentas adalah jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis (dekor, panggung), seni kostum, seni rias, dan sebagainya. Jika kita membicarakan drama pentas sebagai kesenian mandiri, maka ingatan kita dapat kita layangkan pada wayang, ketoprak, ludruk, lenong, dan film.
    Adapun beberapa pendapat para ahli tentang pengertian drama dibagi menjadi enam pengertian: (1) drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala apa saja yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exiting), dan ketegangan pada pendengar/penonton. (2)  drama adalah "hidup yang dilukiskan dengan gerak" (life presented in action). Jika buku roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri. (3) drama adalah konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. (4) drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action. (5) drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak, dan (6) drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
    Berdasarkan pengertian tersebut tampaknya terdapat empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu komposisi, potret kehidupan, lakuan, dan dialog. Komposisi yang tersusun secara rapi dan bertujuan untuk dipentaskan dapat dikatakan naskah drama sebagai karya sastra. Naskah drama pada umumnya sudah memiliki unsur-unsur yang secara exist ada dalam sastra dan dapat pula dikatakan sebagai karya sastra. Yang dimaksud komposisi adalah suatu susunan karangan yang sudah mapan (Ahmadi). Dengan demikian, karangan ini sudah dapat dinikmati sesuai keadaannya. Sedang yang dimaksud dengan potret kehidupan adalah kehidupan faktual yang diangkat dalam karya sastra dan dapat dikembalikan ke dalam kehidupan itu sendiri.
    Sehingga dapat disimpulkan bahwa drama adalah suatu karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan manusia melalui dialog dan lakuan. Tanpa kedua unsur terakhir, yaitu dialog dan lakuan, tampaknya drama belum dapat dikatakan sebagai drama. Bisa jadi, ia hanya merupakan karya sastra yang hanya sekadar dibaca. Dengan kata lain, drama baru dapat dikatakan drama apabila ia tersusun dalam komposisi yang bagus dan baku, terdiri atas dialog-dialog yang menggambarkan karakter masing-masing tokoh, dan lakuan-lakuan yang menyertai dialog sebagai pengejawantahan karakter dalam drama itu sendiri dan menggambarkan kehidupan manusia secara mikro dan makro.

1.2 Konsep Teater
Pada masa Yunani kuno manusia saat itu mempunyai kepercayaan kepada dewa-dewa. Diantara dewa-dewa itu menurut kepercayaannya, dewa utama yang paling ditakuti adalah dewa Zeus, yang menurut keyakinan mereka mempunyai dua orang putera, yaitu dewa Dyonesos dan dewa Apollo. Sifat kedua dewa bersaudara itu jauh berbeda, dewa Dyonesos dikenal sebagai dewa penghancur, karena itu amat ditakuti. Sebab bila dewa Dyonesos murka, maka terjadilah bemacam-macam bencana seperti kemarau yang panjang, wabah penyakit menular, kematian dimana-mana, dan sebagainya. Sebaliknya dewa Apollo inilah yang memberikan kesuburan, kemakmuran dalam bentuk musim hujan dan panen yang melimpah. Bila tanaman subur, hewan-hewan gemuk, manusia sehat, makmur dan hidup tenteram, maka ini merupakan tanda bahwa dewa Apollo sedang singgah di dunia.
Untuk kedua dewa tersebut, rakyat Yunani amat memuliakannya dengan tata cara persembahan yang berbeda. Dalam waktu-waktu tertentu rakyat mengadakan pesta ria di suatu tempat yang telah ditentukan. Mereka yang tidak datang dianggap berdosa dan akan menerima kutukan. Karena itu pada pesta itu, rakyat dari berbagai penjuru daerah datang beramai-ramai ke suatu tempat pesta. pesta ria ini diadakan di tanah lapang luas, biasanya diapit oleh gundukan-gundukan tanah atau dikelilingi oleh gundukan tanah. Pesta ini memakan waktu cukup lama sampai berminggu-minggu, sehingga mereka membawa perbekalan dari rumahnya masing-masing. Tempat pesta tersebut dapat menampung orang dalam jumlah yamg banyak sekali, dan berbentuk arena. Di tengah-tengah arena tersebut terdapat "pusat persembahan" yang disebut "teatron".
Teatron ini berupa podium tanah yang dibentuk semacam ruangan. Di sinilah orang-orang berkumpul mempersembahkan "sesajen" (persembahan) untuk para dewa. Agar doa dan sesaji (persembahan) mereka diterima oleh dewa, maka orang-orang menari-nari di sekeliling persembahan tersebut. Tari-tarian untuk dewa Apollo dilakukan secara meriah. Orang-orang menirukan gerak-gerik binatang. Ada yang berselubung kulit domba sekaligus menirukan gerakan domba, ada yang berselubung kulit harimau sekaligus menirukan gerakan harimau, dan sebagainya. Baik para penonton maupun para penari diperbolehkan saling mengejek sesuka hati, sehingga suasana betul-betul meriah dan gembira. Suasana demikian disebut "co-mos", yang berarti "gembira". Bertolak dari kisah tersebut, maka segala bentuk cerita yang bersifat gembira atau pertunjukan yang bersifat humor disebut "comedy" (komedi). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Dewa Apollo-lah yang melahirkan cerita "komedi".
Berbeda halnya dengan kisah persembahan kepada dewa Dyonesos. Persembahan kepada dewa Dyonesos ini dilakukan dengan penyembelihan seekor domba jantan, yang oleh orang Yunani disebut "tragos". Didasarkan pada waktu pelaksanaannya, persembahan ini (tragos) biasanya dilaksanakan pada musim rontok atau musim gugur. Menurut anggapan orang Yunani kuno, pada musim inilah dewa Dyonesos sedang murka, karena itu mereka perlu mengadakan persembahan, upacara doa dengan tari-tarian, dengan menghilangkan (tanpa) acara ejek-mengejek. Semua jenis tari-tarian tersebut menggambarkan "suasana berkabung", kemudian dilangsungkan upacara penyembelihan " tragos " tersebut. Ratap-tangis dan teriakan tragos itu disebut "tragedia". Tujuan dari persembahan tragos itu, agar musim rontok dan segala bencana segera berakhir. Kesedihan seluruh rakyat digambarkan melalui teriakan tragos waktu disembelih, sedih dan mengerikan.
Dari kisah persembahan itulah, lahirlah istilah "tragedia", yaitu kisah-kisah yang bersifat menyedihkan. Dan perlu juga diketahui bahwa dalam upacara persembahan tragos untuk dewa Dyonesos ini, para penari mencorang-coreng wajahnya serta diiringi dengan iringan musik yang sesuai dengan suasananya. Tradisi mencorang-coreng wajah ini akhirnya berkembang, dan kemudian kita kenal dengan istilah "make up" (tata rias).
Dalam perkembangan selanjutnya, bangsa yang berkuasa ialah bangsa Romawi, pada jaman Romawi, tradisi tersebut diadakan perubahan-perubahan. Bentuk arena persembahan diubah menjadi "gelanggang pertunjukan". Fungsi gelanggang arena tidak berfungsi untuk persembahan kepada para dewa, melainkan digunakan untuk "arena/gelanggang pertarungan". Yang dipertarungkan atau diadu ialah tawanan perang dengan singa atau binatang buas yang lain. Tempat penonton yang disusun bertingkat itu dapat memberikan kesempatan kepada para penonton untuk menyaksikan jalannya pertarungan dengan jelas.
Bentuk-bentuk "teatron" (pusat gelanggang atau pusat arena) itu kemudian mengalami perkembangan, misalnya dari bentuk arena lingkaran berubah menjadi segi empat, menjadi setengah lingkaran, dan sebagainya. Menurut Harymawan dalam bukunya Dramaturgi, menurut etimologisnya, teater adalah gedung pertunjukan (auditorium). Dalam arti luas teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Misalnya, wayang orang, ketoprak, ludruk, srandul, membai, randai, mayong, arja, rangda, reog, lenong, topeng, dagelan, sulapan, akrobatik, dan sebagainya.
Dalam arti sempit teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar dan sebagainya), didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik, nyanyian atau tarian.
Pertunjukan drama disebut juga sandiwara. Kata sandiwara itu dibuat oleh P.K.G. Mangkunegara VII almarhum sebagai pengganti kata toneel, yang pada hayatnya sudah mulai mendapat perhatian di kalangan kaum terpelajar. Tetapi, pada waktu itu di lingkungan kaum terpelajar itu yang dipergunakan masih bahasa Belanda. Kata baru "sandiwara" dibentuk dari kata "sandi" dan "wara", sandi (Jawa sekarang) berarti rahasia, dan wara (warah Jawa) adalah pengajaran. Demikian menurut Ki Hadjar Dewantara, sandiwara adalah pengajaran yang dilakukan dengan perlambang.

1.3 Manfaat Drama/Teater
Banyak hal yang dapat kita raih dalam bermain drama, baik fisik maupun psikis. Pembicaraan ini tidak akan memisahkan secara rinci antara bermain drama dan teater, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Di bawah ini akan diuraikan manfaat bermain drama atau teater.
a.    Meningkatkan pemahaman
Meningkatkan pemahaman kita terhadap fenomena dan kejadian-kejadian yang sering kita saksikan dan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyadari bahwa memahami orang lain merupakan pekerjaan yang paling sulit dan membutuhkan waktu. Untuk itu drama/teater merupakan salah satu cara untuk memecahkannya. Dengan bermain drama atau berteater kita selalu berkumpul dengan orang-orang yang sama sekali berbeda dengan diri kita. Dari segi individual differences inilah kita dituntut untuk memahami orang lain. Pemahaman kita kepada orang lain tidak hanya dilihat dari orangnya, melainkan keseluruhan orang tersebut. Meliputi sifat, watak, cara berbicara, cara bertindak (tingkah laku), cara merespon suatu masalah, merupakan keadaan yang harus kita pahami dari orang tersebut.
b.    Mempertajam kepekaan emosi
Drama melatih kita untuk menahan rasa, melatih kepekaan  rasa, menumbuhkan kepekaan, dan mempertajam emosi kita. Rasa kadang kala tidak perlu dirasakan, karena sudah ada dalam diri kita. Perlu diingat bahwa rasa, sebagai sesuatu yang khas, perlu dipupuk agar semakin tajam. Apa yang ada dihadapan kita perlu adanya rasa. Kalau tidak, maka segala sesuatu yang ada akan kita anggap wajar saja. Padahal sebenarnya tidak demikian. Kita semakin peka terhadap sesuatu tentu saja melalui latihan yang lebih. Rasa indah, seimbang, tidak cocok, tidak asyik, tidak mesra adalah bagian dari emosi. Oleh karena itu, perasaan perlu ditingkatkan untuk mencapai kepuasan batin.
Drama menyajikan semua itu. Peka panggung, peka kesalahan, peka keindahan, peka suara atau musik, peka lakuan yang tidak enak dan enak, semua berasal dari rasa. Semakin kita perasa semakin halus pula tanggapan kita terhadap sesuatu yang kita hadapi.
c.    Pengembangan ujar
Naskah drama sebagai genre sastra, hampir seluruhnya berisi cakapan. Cakapan secara tepat, intonasi, maka ujar kita semakin jelas dan mudah dipahami oleh lawan bicara. Kejelasan tersebut dapat membantu pendengar untuk mencerna makna yang ada. Harus ada kata yang ditekankan supaya memudahkan pemaknaan. Dimana kita memberi koma (,) dan titik (.). hampir keseluruhan konjungsi harus diperhatikan selam kita berlatih membaca dalam bermain drama. Suara yang tidak jelas dapat berpengaruh pada pendengar dan lebih-lebih pemaknaan pendengar atau penonton. Di sini perlu adanya  kekuatan vokal dan warna vokal yang berbeda dalam setiap situasi. Tidak semua situasi memerlukan vokal yang sama. Tidak semua kalimat harus ditekan melainkan pasti ada yang dipentingkan. Drama memberi semua kemungkinan ini. Sebagai salah satu karya sastra yang harus dipentaskan dan berisi lakuan serta ucapan.
d. Apresiasi dramatik
Apresiasi dramatik dikatakan sebagai pemahaman drama. Realisasi pemahaman ini adalah dengan pernyataan baik dan tidak baik. Kita bisa memberi pernyataan tersebut jika kita tidak pernah mengenal drama. Semakin sering kita menonton pementasan drama semakin luas pula pemahaman kita terhadap drama atau teater. Karena itulah, kita dituntut untuk lebih meningkatkan kecintaan kita terhadap drama. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh wawasan dramatik yang lebih baik.
e. Pembentukan Postur Tubuh
Postur berkaitan erat dengan latihan bermain drama, latihan ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu dasar dan lanjut. Yang termasuk latihan dasar ini adalah latihan vokal dan latihan olah tubuh. Yang terkait dengan postur adalah olah tubuh. Kelenturan tubuh diperlukan dalam bermain drama, sebab bermain drama memerlukan gerak-gerik. Gerak-gerik inilah yang nantinya dapat membentuk postur tubuh kita sedemikian rupa.
f. Berkelompok (Bersosialisasi)
Bermain drama tidak mungkin dilaksanakan sendirian, kecuali monoplay. Bermain drama, secara umum, dilakukan secara berkelompok atau group. Betapa sulitnya mengatur kelompok sudah kita pahami bersama, bagaimana kita bisa hidup secara berkelompok adalah bergantung pada diri kita sendiri.
Masing-masing orang dalam kelompok drama memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Tak ada yang lebih dan tak ada yang kurang, semuanya sama rendah dan sama tinggi, sama-sama penting. Untuk itu, drama selalu menekankan pada sikap pemahaman kepada orang lain  dan lingkungannya.
Kelompok drama harus merupakan satu kesatuan  yang utuh. Semua unsur dalam drama tidak ada yang tidak penting, melainkan semuanya penting. Rasa kebersamaan, memiliki, dan menjaga keharmonisan kelompok merupakan tanggung jawab dan tugas semua anggota kelompok itu. Bukan hanya tugas dan tanggung jawab ketua kelompok. Baik buruknya pementasan drama tidak akan dinilai dari salah seorang anggota kelompok tetapi semua orang yang terlibat dalam pementasan. Oleh karena itu, perlu adanya kekompakan, kebersamaan, dan kesatuan serta keutuhan.
g.    Menyalurkan hobi
Bermain drama dapat juga dikatakan sebagai penyalur hobi. Hobi yang berkaitan dengan sastra secara umum dan drama khususnya. Dalam drama terdapat unsur-unsur sastra. Drama sebagai seni campuran (sastra, tari, arsitektur).