sastra

Jumat, 22 Juni 2012

Negeri-ku, Pemimpin Dusta dan Pedasi di Atas Kursi


                          

             "Hanya ada satu kata: lawan!”  Begitulah sebaris kata-kata yang terdapat pada judul “Peringatan”, karya Whiji Thukul. Masih menghiasi di antara pemikiran kita hingga hari ini. Meskipun perlawanannya telah berakhir ketika “Wiji Thukul diculik dan dilenyapkan oleh kaki tangan rezim Orde Baru karena puisi-puisinya serta aktivitasnya di dunia politik praktis, namun semangat perjuangan yang tercermin dalam sajak-sajaknya akan terus hidup.” (Sambodja, 2008). Walau diculik dan dilenyapkan, namun karya-karyanya tetap diikuti dan diapresiasikan hingga hari ini. Baik secara perorangan maupun secara nasional dengan konsep dan ideologi kekiniannya.

             Antara Wiji Thukul dan W.S. Rendra, sama-sama mengusung tema yang sama walau ada beberapa puisi-puisi cinta yang dituliskan oleh W.S Rendra. Namun tetap bertemakan sosial yang cukup dikenang oleh pembacannya hingga hari ini.

              Sehingga tidak mengherankan jika W.S Rendra, masih dihidupkan dengan “Sajak Sebatang Lisong”-nya. Baik yang dikatakan pada tiga baris di bait pertama, /dan di langit/ dua tiga cukong mengangkang,/ berak di atas kepala mereka//. Tentang perlawanan dan ungkapan rasa ketidakadilan dari para cukong yang meraut keuntungan. Dan /membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan,// yang hanya bermain dengan puisi-puisi cinta. Tidak memperdulikan tentang apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Baik secara ril maupun non ril.

              Jika bercerita tentang keadilan dari puisi kekinian, maka Ramatsyah pun juga patut dikatakan sebagai penyair yang mengusung jalur yang sama-sama digariskan oleh Wiji Thukul dan W.S Rendra. Meski karya-karyanya hanya mampu dilahap di selembar koran lokal yang ada di Banda Aceh. Tepatnya di koran Serambi Indonesia dan Harian Aceh, seperti pada puisi di bawah ini:

Pedasi di Atas Kursi

Lepas suara siap berlaku
Para tuan pedasi yang bercinta
Bersilat lidah di atas pentas
Berkata janji si mulut setan

Senang alami di awal hari
Telah terpilih si tuan raja
Kami berdiri berharap itu janji
Menatap sang tuan yang berdasi

Di atas meja dan kursi putar
Selembar kertas terhitung rupiah
Hitungan jutaan sampai tak terhingga
Lengah mata Tuan Raja
Silaunya uang ia berdalih

Janji diingkari uang dicuri
Kami si miskin terlena akan janji
Terbuai kata jelmaan iblis

Kini, kami hanya menanti
Sang tuan raja seperti dalam mimpi

Rahmatsyah, 28 Maret 2012


               Pada bait puisi yang ketiga, Rahmatsyah mengatakannya seperti ini. /Di atas meja dan kursi putar/ Selembar kertas terhitung rupiah/ Hitungan jutaan sampai tak terhingga/ Lengah mata tuan raja/ Silaunya uang ia berdalih//. Tidak dipungkiri jika di bait itu Tuan Raja ialah sebagai para penguasa di negeri ini. Menggunakan kekuasaan dan jabatannya hanya untuk menikmati kekayaan dari hasil yang bukan haknya. Hal tersebut terbukti pada bait keempat, menjelaskan perihal tentang /Janji diingkari uang dicuri/ Kami si miskin terlena akan janji/ Terbuai kata jelmaan iblis//. Tentu saja, hal tersebut membuat berang sang penyair yang juga mengatakan di bait kelimanya. /Kini, kami hanya menanti/ Sang Tuan Raja seperti dalam mimpi//. Yang juga merindukan sang penguasanya, walau hanya diungkapkan di “dalam mimpi”.

              Meskipun puisi yang berjudul “Pedasi di Atas Kursi” masih bermain dengan penyampaian berpola rima ab-ab, pada bait kedua puisi tersebut. Namun puisinya mampu mempertegaskan pemikirannya kepada kita sebagai pembaca. Untuk merenungi tentang hak dan kewajiban sebagai pemimpin yang baik. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

              Pada puisi di bawah ini pun menceritakan hal yang sama. Tetapi lebih difokuskan secara nasional, kepada pemimpin di negeri ini yang juga dijelaskan pada pengamatannya secara mendalam. Berikut sajian puisinya, perihal mengenai pemimpin dusta tersebut.

Negeri dan pemimpin dusta

Untuk apa hidup di negeri ini
Bila kalian hanya membuat kami menangis
Untuk apa kami memilih pemimpin
Bila sang pemimpim tak memimpin
Kami bagai makanan yang hanya kau lahap waktu lapar

Kenyangkah kalian sekarang dengan uang kami
Kau makan harta kami
Kau renggut sejahtera

Rakyat jelata hanya berbaring di atas kasur tua
Sedang kau mimpi indah dipembaringan mewah
Rakyat jelata kini duduk tak bisa bersuara
Jiwa mereka meronta tanpa bertindak

Mahasiswa berdiri di hadapan kalian
Mewakili mereka yang sedang istirahat, lalu mencari nafkah
Sesuap nasi hasil keringat
Kini beban mereka bertambah karena kalian
BBM kau naikkan,

Ah, pembohonglah kalian
Berjanji pada kami
Namun, kau hancurkan kemudian

Negeri dan pemimpin dusta

Rahmatsyah, 24 Maret 2012


             Setelah membaca dan memahami perihal puisi yang berjudul “Negeri dan Pemimpin Dusta” tersebut. Ada serangkaian kejadian yang selalu berkaitan, sambung-menyambung menjadi suatu kejadian di setiap bait puisinya. Seperti pada bait pertama, yang begitu tegas dikatakannya /Bila sang pemimpim tak memimpin/ Kami bagai makanan yang hanya kau lahap waktu lapar//. Pada bait kedua, ditegaskan pula dengan dua baris yang juga menyatakan kelangsungan semasa penguasa memimpin negeri ini. /Kau makan harta kami/ Kau renggut sejahtera//. Dan pada bait terakhir inilah sang penyair berkata dengan lantang. /Ah, pembohonglah kalian/ Berjanji pada kami/ Namun, kau hancurkan kemudian//. Perihal tentang janji palsunya, tentang menaikkan harga BBM dan berbohong di balik kepemimpinannya. Adalah sebagai ungkapan dari “Negeri dan Pemimpin Dusta” tersebut, yang telah dinyatakan dengan ketegasannya sebagai penyair di negeri ini.

            Dari kedua judul puisi tersebut, setelah membacanya dan memahami tentang apa yang ingin disampaikan oleh penyair Rahmatsyah tersebut. Adalah serangkaian pada masa-masa yang juga terjadi di akhir-akhir ini, tepatnya di “Negeri dan Pemimpin Dusta” ini. Ia menulis puisi yang bisa dimengerti oleh kalayak ramai tentang kenyataan hidup orang-orang yang melarat, dihimpit kemiskinan. Dan, pada akhirnya bahwa di tangan penyair, fakta sosial bisa menjadi kekuatan yang sangat luar biasa. Ia mengungkap fakta ketimpangan sosial dengan kepekaan kepenyairannya. Namun, kata-kata sang penyair seperti Rahmatsyah memiliki perjalanan yang panjang. Entah kapan, semoga sang penyair mampu menghasilkan karya-karyanya, hingga akhir hayatnya.


Sumber:
Negeri dan Pemimpin Dusta (Harian Aceh, 08 April 2012)
Pedasi di Atas Kursi (Harian Aceh, 08 April 2012)


Selasa, 12 Juni 2012

Bayangan


Bayangmu menyatu dengaku
Setiap gerakku tergerak bayangmu
Hitam tampak kau mengikuti alunan tubuhku
Bahkan dalam mimpi kau ikut sertakan bayangmu

Bayangmu tak hanya datang ketika malam tiba
Saat mentari yang menghangatkan siang
Kau pun serentak berjalan denganku

Terkadang ku ingin bayangmu hilang
Karena kesialan yang kau bawa
Membuatku melayang
Sampai meratapi masa depan yang kelam

Aku tak bahagia bersama bayangmu
Dan aku akan berdiri dengan bayangku sendiri, kini

                                                                        Rahmatsyah, 12 Juni 2012
                                                                        Tungkop.





Minggu, 27 Mei 2012

Ternyata Aku


Baru saja mereka membuat aku terkejut “Kenapa ibu tak pernah bilang padaku bahwa pakcik adalah ayah kandungku. Aku lebih kecewa kini karena setelah sekian lama semua rahasia ibu telah terbuka, terlambat sudah ayah telah meninggal bahkan aku belum pernah merasakan belaian beliau. Untuk apa lagi sekarang? Yang ada Cuma kesedihan dan harapan yang berlalu”. Ucapnya seraya air mata yang mengalir.
Ternyata kasih sayang yang ku terima ini bukanlah kasih dari orang tua kandungku, sekarang aku merasa malu padamu ibu karena banyak sudah kejahilanku dari sejak aku kecil  sampai kini, maafkan aku. Jadi, inilah tujuan ibu mengajakku ke tempat ini. Pantas mereka melihatku lain.
Baru saja turun dari mobil angkutan umum L300 aku di sambut dengan keadaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, rasa duka telah terasa sejak rumah itu tampak, kerrumunan orang-orang yang sedang yasinan ada yang duduk bersimpuh dengan tangisan, para pemuda kampung sibuk memasang tenda untuk persiapan zikir malam nanti.
“kamu auri kan?” kata salah sanak saudara di rumah. Semua orang pun semua melihat ke arahku, hanya terdiam saja tanpa gerak, aku bingung dengan omongan mereka belum mengerti maksud dari pertanyaan singkat itu. Aku bertanya bertanya pada ibu apa yang sedang mereka katakan terhadapku, padahal baru dua kali aku ke kampung ini, pertama saat aku berusia 13 tahun, sekarang aku berumur 25 tahun untuk kedua kalinya aku berada di sini kenapa mereka mengenaliku? Seribu tanya dalam benakku, pertanyaan yang ku tujukan pada ibu tidak di jawab, beliau hanya diam dan juga menyuruhku untuk diam.
Rasa jengkel mulai terasa, karena penasaran yang aku rasakan ini tak ada jawaban, padahal belum sampai 24 aku berada di kampung ini, tujuanku hanya bersilaturahim ke rumah pakcik, malangnya satu jam sebelum aku sampai pakcik telah meninggal. Aku juga merasa heran kenapa mayat pakcik tak langsung dikebumikan, yang ku tahu, ibu bukanlah saudara dekatnya sah-sah saja bila prosesi pemakaman langsung dilaksanakan.
Rasa capek masih aku rasakan kerumunan orang-orang itu menghampiriku, ibu hanya diam dari tadi, seperti ia menyembunyikan suatu hal dariku, rasa penasaran masih ada dalam benakku. Ketika melihat mayat pakcik terbaring di ruang yang aku lihat, tanpa aku sadari tetesan ini membasahi pipiku, ingin sekali rasanya aku mencium kaning pakcik, terasa dalam jiwa, seakan aku telah kehilangan seorang yang sangat aku cinta dan sayangi, bahkan lebih dari itu, padahal aku tidak akrab dengannya hanya sebatasnya saja antara saudara biasa.
Aku terus memandanginya, walau sudah banyak orang disekelilingku. Salah seorang dari mereka berkata “itulah ayahmu!”. Aku tak tahu siapa yang berkata seperti itu, kejutkan batinku rasa sesak terasa dalam dada mengapa dia berkata seperrti itu, aku masih belum percaya atas apa yang baru saja ku dengar, “ibu, benarkah apa yang mereka katakan, bahwa aku adalah anak kandung pakcik?”. Sekarang semua orang sudah membicarakan itu ibu tak bisa berkata-kata lagi selain hanya menangis. “nanti saja ibu ceritakan semuanya padamu nak! Benar apa yang meraka katakan, datanglah ke sana ke jenazah ayahmu cium keningnya dan minta maaflah padanya”. Hanya itu yang ibu katakan.
Tak peduli lagi apa yang ada di sampingku bahkan orang-orang banyak itu, aku duduk bersimpuh dengan berlinangan air mata meminta maaf pada ayah yang baru aku kenal setelah ia meninggal (pakcik), tangis ini tak bisa lagi aku bendung ia keluar begitu saja. “Ayah, durhakakah aku karena baru mengenalimu, apakah dosaku akan terampuni karena kini baru aku bisa mengucapkan kata maaf padamu, ayah, apakah aku seorang anak yang berbakti padamu karena tak pernah sekalipun aku memanggilmu dengan sebutan “ayah”. Ayah ini adalah kali pertama aku memanggilmu dengan sebutan itu setelah kau tak lagi mendengar suaraku ini, ayah aku hanya bisa maaf padamu dan akan selalu aku doakan engkau ayah agar dikau menjadi ahli surga di sana kelak. Amin”.
Tak algi berkata apa-apa aku duduk dengan sebuah yasin dan membacanya, orang-orang itu masih saja melihatku.
***
Setelah proses pemakaman ayah selesai aku pinta kepada ibu untuk menjelaskan semuanya tentang aku. Ibu mencertikan semuanya dengan sesak tangis yang ditahannya.
Ibu kandungku  meninggal dunia kala aku masih berusia satu bulan, keadaan keluarga yang sangat kurang mampu menjadi faktor utama kenapa aku tak di rawat oleh ayah (pakcik). Ayah ingin aku menjadi orang yang berhasil namun tak mungkin dengan keadaan materti yang tak cukup, saat itu ibu datang dan meminta agar aku bisa di rawatnya sampai berhasil kelak dan ia akan merahasiakan semua tentang aku, ibu berencana memberitahukan kisahku setelah aku tamat kuliah dan punya pekerrjaan yang tetap. Tapi, apalah daya kehendak berkata lain ayahku meninggal sebelum sempat aku tahu siapa beliau sesungguhnya.
Semenjak aku tahu bahwa aku bukan anak kandungnya, aku penasaran dan sangat ingin melihat wajah ibu kandungku,apakah aku mirip dengannya, apakah ibu cantik secantik aku, ibu kandungku bagaimana sifatnya. Bayang-bayang tentang ibu masih tergambar dalam pikiranku, membayang seorang yang telah melahirkanku tapi belum pernah sekalipun aku melihatnya.
Seraya bayang-bayang itu bersemayam dalam benakku ibu memperlihatkan sebuah buku yang berisi album foto yang sudah usang tampaknya. Wajah seorang wanita sedang mengendong bayi, senyumannya begitu menggugah, ciumannya di kening bayi itu sangat ikhlas terlihat. Ibu bilang “wanita dalam foto ini adalah ibu kamu, dan bayi yang ada dalam pangkuannya adalah kamu”. Sesak yang ku rasa akhirnya berubah menjadi isak tangis aku sangat merindukan ibu di kala ayah sudah pergi  untuk selamanya.
Kini hanya doa yang bisa ku panjatkan kepada  mereka, walau tak sempat aku merasakan bagaimana kasih sayang orang tua kandung sesungguhnya. Ibuku telah lama pergi, ayahku baru saja menutup mata, aku telah dewasa menjadi seorang wanita sesungguhnya.
Ibu, kini hanya kau yang aku punya walau dia bukanlah ibu kandungku tapi kasih sayang yang ia berikan sama halnya seperti kasih sayang ibu kandung. Aku tak ingin lagi kehilangan ibu untuk yang kedua kalinya, aku ingin ibu melihatku bahagia dengan keberhasialan yang ku dapat kini, berkat doa ibu yang telah telah pergi dan ibu kedua yang membimbingku selama ini.
***
Ternyata ayahku, setelah kepergiannya aku tahu siapa aku adalah bukan anak kandung ibu, melainkan anak yang diambil ketika aku masih berusia satu bulan. Mungkin ini adalah kisah biasa, betapa pahit ku rasa. Tak sanggup lagi apa yang akan ku kata, karena tetesan ini telah merusak kertas diari yang telah rangkai dari hati.
Ibu, Ayah aku rindu kalian. Kita akan bersama di sana kelak di surga.

Beri Aku


Di sini, sendiri
Dalam ruang antara dinding
Melihat ke arah  luar di balik jendela tua
Mereka beriang

Aku sendiri di sini
Masih gelap dan sunyi
Aku kembali melihat
Ke arah cahaya itu
Betapa bahagianya  mereka

Dan teriak lagi hatiku :
“Tuhan, aku tak ingin sendiri”.


Rahmatsyah, 26 Mei 2012
Tungkop, Banda Aceh

Sabtu, 05 Mei 2012

Secangkir Kopi

Kopi panas di atas meja
Peneman pagi memulai hari
Secangkir si hitam manis
Untuk mereka para pecandu

Memulai asa dengan kopi panas
Mulai berkata setelah merasa
Satu teguk mengalir dari mulut
Manis-manis pahit nikmat terasa
Dan pikir mereka tentang suatu karya

Imajinasi bermain di kepala petuah itu
Apa yang akan tertuang dengan secangkir kopi
Cerita-cerita akan terangkai
Dari kisahnya sampai kisah mereka

Secangkir kopi panas di atas meja
Habis terteguk dalam mulutnya




Kantin FKIP, 5 Mai 2012
Rahmatsyah

Jumat, 04 Mei 2012

Ada Suatu Kerinduan


Senyap gelap menyapa
Terdengar seruan nyanyian batin
Dalam dawai malam yang kelam

Ada sesuatu yang sangat aku rindukan

Kalbu menangis di bawah rembulan
Tak ingin dahulu daku terpejam
Sebelum tetesan-tetesan ini
Menyampaikan kerinduanku

Seraya itu terucap asma-Mu
Seakan, hidup sesaat
Bersama jiwa-jiwa yang damai

Ada sesuatu yang sangat aku rindukan
Ketika sujud malamku
Menghadap-Mu


Rahmatsyah
Tungkop, 19 April 2012