sastra

Kamis, 19 Januari 2012

Ingin Aku


Seandainya kalam ini tak kelu
Akan ku ceritakan tentang aku
Yang tak bahagia
Yang selalu menyembunyikan kesedihan
Dibalik bahagia

Aku tak ingin selalu kau kekang
Aku ingin bebas
Aku ingin terbang
Aku ingin senyum ku
Janganlah kau hilangkan itu

Aku disini bahagia
Aku bisa tersenyum dan tertawa
Tapi, tolong jangan kau rebut itu

Kau dan dia adalah segalanya bagi ku
Namun, aku tak bisa jika selalu kau begitu

Aku hanya ingin bahagia
Aku akan tertawa selamanya
Dan itu memang bahagia ku..
                                                                       Rahmatsyah, Mahasiswa Gemasastrin 2010 dan Penggiat Rampagoe Gemasastrin  
Unsyiah, 27 Desember 2011

Diantara Ada dan Tiada


Diantara ada dan tiada
Rasa mengambang tak tahu arah
Asa pun layu tak bergelora
Lenyap seketika dalam gelap

Diantara ada dan tiada
Kembali mencari setitik cahaya
Yang telah diredupkan
Dan api tak lagi bergejolak

Diantara ada dan tiada
Hati memberontak rasa ingin marah
Benci yang terasa membunuh rasa
Harap telah hilang

Diantara ada dan tiada
Jasad menjerit
Ruh menjerit
Darah mendidih
Sekujur tubuh telah mati

Diantara ada dan tiada
Bingung kembali muncul
Ragu meghampiri
Oh, bila memang ada
Adakanlah
Dan jika tiada
Hilangkanlah
Beri kepastian
Diantara ada dan tiada

Rahmatsyah, 16 Januari 2012
Mahasiswa PBSI 2010

Gema Subuh


Mata masih terpejam
Fikir belum terarah
Gema subuh berkumandang dari segala arah

Akan terkisah dalam sajak ini
Gema subuh seruan seluruh makhluk
Menghadap tuhannya dikala masih sayup
Entah, manusia ini telah terbangun

Tak tahu iya atau tidak
Manusia bertadah dikala subuh
Tak tahu juga apakah mereka
Tahu seruan itu

Subuh hari ini dan selamanya akan selalu menggema
Walau, sedikit dari mereka yang bertamu ke tuhannya…

Rahmatsyah, 28 Desember 2011
Darussalam.
Mahasiswa Gemasastrin 2010

26 Desember


Terlihat mereka
Terdengar mereka
Terasa ketakutan mereka
Pada detik maut
Menit kematian
Dan disaat bumi hanya mampu memberi
tempat untuk mayat-mayat itu

kesaksian 26 desember lumpur darah
kesaksian 26 desember beribu kematian
kesaksian 26 desember isak tangisan
kesaksian manusia tak berdaya 26 desember itu

apakah akan terulang lagi 26 desember itu?
Akankah manusia kembali lupa pada hari maut itu?
Benarkah manusia tak lagi ingat kepada tuhannya?

Kita yang membuat musibah itu
Kita yang mengundang maut itu
Dan kita sendiri yang membuat manusia menangis dalam ketakutan
Juga kesaksian akan berjuata kematian

Kini 26 desember telah lalu
Sudah menjadi kenangan
Kini teringat kembali 7 tahun 26 desember kala itu

7 tahun kini akan terlihat lagi
Ribuan tangisan akan terdengar lagi
Tangisan, zikir, memohon ampun, taubat
Ribuan doa untuk ibu, ayah, keluarga dan semua mereka

Tungkop, 18 Desember 2011
Rahmatsyah, Mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah 2010 dan penggiat Rampagoe Gemasastrin

Jumat, 16 Desember 2011

Sajak Embun

Kau ingin tahu bagaimana rasa ku pada mu?
Kau ibarat embun pagi yang selalu ku nanti
Embun yang memberi sejuk pagi hari
Ku harap kala pagi ku bertambah beribu embun
Ku ingin indah pagi ini seindah pagi kemarin dan selamanya

Kau ingin tahu bagaimana cinta ku?
Kau lihatlah langit yang selalu setia menaungi bumi
Yang setia menunggu pagi dan menabur embun
Hingga bumi ku indah seindah kamu, sayang

Kau adalah embun ku
Kau adalah sejuk ku
Dan aku berharap kau adalah embun terakhir
Yang terindah yang pernah ku miliki.


                                                                                                            Rahmatsyah, 

Ibu, kau adalah embun ku.

Ku ingin pagi bersama mu
Melihat embun dan akan ku buat tinta dari embun itu
Ku tuliskan sajak tentang mu
Di kala malam akan tertidur

Kau adalah embun ku, ibu
Kau bagaikan ribuan cahaya dalam hati gelap ini
Kau adalah udara hingga terasa di setiap nafas

Ibu, akan ku coretkan sejuta isi hati dalam sajak ku
Walau, aku tak tahu bagaimana mengatakannya
Ku kehilangan kata
Ku bertambah rasa
Aku tak tahu lagi bersua tentang kasih

Ibu, akan ku beri satu embun ini untuk mu
Dan ku luapakan menjadi bait-bait
Kisah anak dan ibu

Ibu, kau adalah embun ku.

                                                                                    Rahmatsyah.

Kamis, 15 Desember 2011

Ibu Tunggu Aku Pulang dengan Seberkah Keberhasilan


Sejenak aku berdiri di ujung senja
Melihat matahari yang masih terasa hangat
Yang mengingatkan aku pada seorang wanita
Bahkan, aku tak mungkin melupakkannya sampai tinta ini habis

Sejenak aku mengenangnya
Memendam rasa kerinduan yang telah lama tersimpan
Ingin rasanya setiap saat aku berada dalam peluk hangatnya
Seraya melihat senyum itu

Seperti nya aku ingin kembali ke masa lalu
Yang selalu Dalam pangkuan wanita itu
Sekarang aku sangat merindu
Terisak dalam batin ini
Aku lemah dalam kejauhan dengan mu

Ibu..
Tahukah kau ibu?
Senja hangat ini terasa begitu dingin
Hingga aku ingin sekali kau peluk aku
Merasakan kehangatan yang lama sekali tak pernah ku rasa lagi

Tahukah kau ibu?
Malam ku sunyi
Pagi ku terasa hampa
Ketika aku sendiri
Ketika aku galau
Ketika aku sakit
Ketika itu aku ingin bersama mu

Aku tak berharap lain
Karena kau adalah kasih ku

Kau tahu ibu?
Kini aku telah dewasa
Tak lagi kecil
Tak lagi manja
Namun, ketika rasa itu datang
Aku tak pernah ingin menjadi seperti sekarang

Kini hanya satu cita-cita untuk mu, ibu
Aku ingin melihat mu tersenyum
Aku merantau
Dan, tunggu aku pulang dengan seberkah keberhasilan

                                                            Karya : Abu M.S (Rahmatsyah)